Menikmati Eksotisme Gedung Sate



Gedung Sate merupakan salah satu bangunan bersejarah yang ada di kota Bandung. Gedung ini pada jaman dulu dikenal sebagai Gedung Hebe yang diserap dari singkatan GB atau Gouvernements Bedrijven. Gedung bersejarah ini dibangun pada tahun 1920 sebagai pusat pemerintahan Hindia Belanda saat itu. Walaupun usianya yang hampir menginjak satu abad, gedung sate hingga sekarang masih kokoh berdiri dan digunakan sebagai pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat.

Gedung Sate

Gedung Sate

Gedung kebanggaan masyarakat Jawa Barat ini dikenal sebagai Gedung Sate lantaran di puncak menara gedung utama terdapat tiang seperti tusuk sate dengan enam ornamen yang mirip jambu air. Konon, keenam ornamen tersebut melambangkan modal awal pembangunan pusat pemerintahan yang mencapai enam juga gulden.

Gedung Sate sebetulnya hanya bagian kecil di kompleks pusat perkantoran pemerintahan sipil Hindia Belanda kala itu, yang mencapai luas sekitar 27.000 meter persegi. Gedung Sate dibangun memanjang, membentang dari selatan ke utara, bersumbu lurus dengan Gunung Tangkubanparahu. Dalam proses pembangunannya, dibutuhkan sekitar 2000 orang untuk membangun gedung megah ini. Bukan hanya pekerja pribumi yang diambil, namun juga pekerja dari Tiongkok dan Eropa.

Di sayap barat dan timur gedung terdapat ballroom dengan hiasan lampu gantung yang sangat artistik, mirip dengan bangunan pemerintahan yang ada di Eropa. Sejak menjadi pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat, keduanya lebih dikenal sebagai aula barat dan aula timur. Kedua aula ini sering digunakan untuk acara-acara resmi yang membutuhkan ruangan agak luas.

Gedung Sate

Tim Panduanwisata.net Saat Berkunjung Ke Gedung Sate

Selain dipengaruhi nuansa Eropa, bangunan bersejarah ini juga dipengaruhi dengan karakter Hindu. Karakter Hindu terlihat dari dinding depan dengan ornamen tradisionalnya khas bangunan candi Hindu.

Sementara di tengah bangunan utama Gedung Sate terdapat menara dengan atap susun seperti atap Pagoda. Hal ini menjadi semakin menarik lantaran bangunan merupakan perpaduan antara ciri tradisional Indonesia dan teknik berkelas arsitektur barat.

Lantai paling atas gedung ini berupa menara yang memiliki pemandangan Lapangan Gasibu dan Monumen Perjuangan Jawa Barat. Selain itu, jika menatap lurus ke arah depan, akan dilihat Gunung Tangkubanparahu yang berada sejajar dengan Gedung Sate. Bagian menara ini dikonsep sedemikian rupa sehingga nyaman untuk ditempati. Bukan hanya nyaman, namun ruangan ini dirancang sedemikian rupa sehingga mirip dengan kafe-kafe terkenal di Kota Paris.

Gedung sate harus diakui memiliki arsitektur yang sangat indah. Bahkan tidak kalah indah dengan bangunan pemerintahan yang ada di negara luar. Tidak heran ada sebagian kalangan yang menyebutnya sebagai ‘gedung putih’-nya Jawa Barat. Wisatawan pun tidak sungkan untuk berfoto-foto di sekitar gedung ini. Bahkan shooting film pendek atau film televisi sering digelar di tempat ini.

Menuju Gedung Sate

Pada hari minggu, area depan Gedung Sate selalu penuh oleh masyarakat yang melakukan olah raga atau hanya berjalan-jalan dengan keluarga. Walaupun untuk masuk tidak bisa seenaknya, wisatawan tidak akan kecewa dengan suasana sekitar gedung sate yang adem. Apalagi jika malam hari, lampu-lampu sekitar gedung menambah suasana semakin romantis.

Gedung Sate

Suasana Gedung Sate Saat Malam Hari (foto:ghiboo.com)

Untuk menuju gedung yang beralamat di Jl. Diponegoro No. 22, ini tidak terlalu sulit. Dengan menggunakan kendaraan umum, dari terminal Lewi Panjang, dapat menggunakan bus Damri tujuan Leuwi Panjang–Dago. Turun di perempatan Dago-Diponegoro. Kemudian menggunakan angkot hijau hitam 06 tujuan Ledeng Cicaheum. Jika menggunakan kendaraan pribadi dapat keluar di pintu tol Pasteur, kemudian naik flyover Pasopati, melewati Surapati dan Sentot Alibasjah, dan masuk ke Jl. Diponegoro.

Ada beberapa tempat menarik lain yang dapat dikunjungi di sekitar Gedung Sate yaitu Lapangan Gasibu, museum Geologi, dan museum Pos dan Giro. Selamat berwisata!


Share this post:

Related Posts

Leave a Comment