Jadi Bisa Karena Traveloka: Catatan Kecil Bagaimana Sebuah Aplikasi Bisa Mengubah Hidup Banyak Orang



Awal Mula Perkenalan Hingga Jatuh Hati

Tak kenal maka tak sayang, pepatah ini sangat cocok untuk menggambarkan bagaimana awal perkenalan saya dengan traveloka. Saya sudah sering melihat iklan traveloka, baik di tv ataupun di media online, tapi nampaknya keseksian iklan traveloka dengan slogannya yang sudah sangat kita kenal itu masih belum bisa mengalahkan pandangan saya dari keseksian sosok Rihanna di film Vallerian.

Sampai suatu waktu saya mendapatkan tugas dari kantor tempat saya bekerja untuk mengurus suatu hal di Surabaya.

“Terserah ke sana menggunakan apa, nanti tiketnya kantor yang beli, tinggal tentukan jadwal dan jam keberangkatan, maskapai penerbangan, serta harga nya,” Seorang staff yang mengurus perjalanan dinas menjelaskan.

“Sudah install aplikasi traveloka belum?” Lanjutnya kemudian.

 “Belum Mbak,” Jawabku aneh. Apa hubungannya aplikasi traveloka dengan perjalanan dinas? Aku membatin waktu itu

 “Install dulu, trus patokan jadwal sama harganya kita pakai traveloka, kalau sudah nemu jadwal yang cocok kabari saya, nanti saya pesankan.”

jadi bisa dengan traveloka

Dashboard bagian atas aplikasi traveloka

Sejak saat itu, saya mulai kenal lebih dekat dengan traveloka, dan perlahan namun pasti mulai jatuh hati. Traveloka selalu menjadi teman setia dalam setiap perjalanan saya hingga saat ini. Sangat bisa diandalkan, baik dalam keadaan senang maupun susah. Baik untuk memesan tiket pesawat hingga tiket kereta, maupun untuk memesan hotel hingga hostel.

Musibah di Akhir Juli

Kisah saya dengan traveloka seperti layaknya film ftv yang menceritakan hubungan sahabat yang saling membutuhkan. Begitu juga dengan kisah di akhir juli ini, kalau tidak salah tgl 23 Juli 2017. Saat saya sedang asik mengatur strategi agar target akhir bulan yang dipatok oleh atasan bisa tercapai, tiba-tiba ada pesan singkat dari Emak yang tidak akan saya lupakan sampai saat ini.

“Oyo meninggal,” pesannya singkat, tapi cukup membuat semua konsentrasi saya buyar. Segala rencana pekerjaan dan strategi yang sedang dirancang bukan lagi menjadi fokus utama. Fokus saya berubah ke: bagaimana caranya secepat mungkin saya bisa sampai ke rumah yang berada di ujung pulau jawa sekitar pesisir pantai tanjung lesung, dari tempat saya berada di jawa bagian tengah yang sudah mau berbatasan dengan jawa timur.

Oyo merupakan panggilan sayang saya dan keluarga untuk uyut, atau ibunya nenek. Saya sangat dekat dengan beliau. Perasaan saya kacau, galau, gak karuan. Pikiran saya kembali teringat kejadian sebulan yang lalu saat akan kembali ke perantauan setelah merayakan hari raya idul fitri di rumah. Tanggal 28 Juni tepat nya, history e-tiket penerbangan Jakarta-Solo yang saya beli pada waktu itu masih tersimpan rapi di traveloka.

Saat saya pamitan ke Oyo, mencium tangan nya, memeluknya, dia enggan melepaskan tangan saya. “Ulah mangkat, oyo didiye teaya baturna,” ucapnya waktu itu dalam bahasa sunda. Artinya kurang lebih: Jangan pergi, oyo disini gak ada temennya. Sikap oyo waktu itu aneh, sangat aneh malah. Saya sudah merantau sejak lama, bahkan sejak sebelum kuliah. Setiap pamitan, beliau biasanya hanya mendoakan, atau di beberapa kesempatan mendoakan sambil ada sedikit air mata yang tertahan untuk keluar dari sudut matanya.

Antara sedih, ingin cepat sampai kampung halaman, hingga target closing di kantor. Semuanya campur aduk. Di tengah pikiran yang kusut dan air mata yang tidak bisa tertahan, saya membuka traveloka, sang sahabat yang paling jujur dan selalu bisa diandalkan. Sayangnya di hari itu sudah tidak ada lagi jadwal pesawat ke Jakarta. Maka saya mencari alternatif lain, dan dalam hitungan menit tiket kereta sudah di tangan, eh, di hp maksudnya. Walaupun tidak bisa memeluk oyo untuk yang terakhir kalinya, paling tidak saya bisa sampai ke rumah lebih cepat dari kerabat-kerabat lain yang sama-sama berada di luar provinsi. Jujur, traveloka benar-benar sangat membantu. Selalu menjadi sahabat terbaik saat suka maupun duka.

Fitur Price Alert Menyelamatkan Karirku

Sebelum traveloka lahir dengan fitur price alert-nya, dunia pemesanan tiket pesawat seperti berada pada jaman kegelapan. Hafiz, salah satu sahabat terdekat saya, kalau mau pulang kampung, dia harus rajin untuk mengecek harga tiket pesawat yang selalu berubah-ubah di website resmi masing-masing maskapai penerbangan, demi mendapatkan harga terbaik sesuai kantong mahasiswa pada saat itu. Bahkan di waktu-waktu tertentu, dia harus mengecek nya hampir setiap jam. Traveloka dengan price alert-nya hadir sebagai pahlawan bagi para traveler, mahasiswa, serta para perantau yang membutuhkan tiket pesawat dengan harga terbaik.

jadi bisa dengan traveloka

Tampilan Fitur Price Alert di Traveloka

Menyambung cerita diatas, sewaktu saya pulang untuk menghadiri pemakaman Oyo, saya tidak sempat izin ke atasan, karena atasan saya berada di Semarang. Setelah sampai di kampung halaman, saya baru menghubungi atasan untuk memberitahukan perihal ketidakhadiran saya di kantor yang saya pimpin di Solo untuk beberapa hari ke depan. Saya tidak tahu dia kesal atau tidak, tapi yang pasti dia hanya meng-iyakan, dan saya berjanji untuk masuk kantor kembali tanggal 27 Juli.

Pada tanggal 25 Juli, saya pergi ke pasar untuk belanja kebutuhan tahlilan Oyo, jaraknya sekitar 16 km dari rumah. Saya memang menawarkan diri untuk belanja, walaupun sebenarnya banyak yang dengan suka rela membantu belanja ke pasar. Ada tujuan lain yang ingin saya lakukan: mencari sinya internet. Ya, di daerah rumah saya memang tidak ada sinyal internet hampir untuk semua operator. Bahkan untuk beberapa operator menelpon/sms saja tidak bisa.

Setelah mendapatkan sinyal internet walaupun sebatas H+, saya langsung membuka aplikasi traveloka, tapi tidak langsung memesan, hanya sebatas menambahkan penerbangan untuk tanggal 26 dan 27 Juli ke fitur price alert. Karena waktu itu saya masih galau antara pulang ke Solo tanggal 26 atau 27 Juli, mengingat suasana di rumah masih berduka dan ada beberapa kerabat dari luar kota yang masih dalam perjalanan menuju rumah. Selain itu, saya menambahkan tanggal penerbangan ke price alert juga agar saya bisa mendapatkan notifikasi saat harga tiket pesawat berada di batas harga yang sudah saya tentukan. Tidak lupa saya juga membeli kartu perdana salah satu operator seluler, yang dengan sedikit usaha naik ke pematang di belakang rumah bisa dapat sinyal 3G.

Berbicara tentang price alert, saya sudah beberapa kali terbantu dengan fitur ini. Yang paling saya ingat, saya bisa mendapatkan harga tiket pesawat Solo-Jakarta hanya Rp.289.000! Padahal saat menambahkan tanggal jadwal penerbangan ke price alert, harga tiketnya masih di kisaran 600 ribuan.

Selesai tahlilan sekitar jam 20.30 malam pada tanggal 25 Juli, atasan saya menelpon. Beliau memerintahkan saya untuk sampai ke kantor di Solo tanggal 26 Juli, karena ada meeting mendadak pada tanggal 27 Juli dan saya harus membuat laporan perihal cabang yang saya pimpin. Laporan tersebut maksimal harus sudah jadi tanggal 27 Juli pagi sebelum meeting.

Saya kaget bukan kepalang, seumpama ini sinetron, mungkin muka saya sudah di zoom sampai lubang hidung sambil diiringi musik yang berirama tegang. Kalau saya tidak bisa menyelesaikan laporan ini, konsekuensinya sudah jelas. Saya berkaca ke kejadian yang pernah terjadi sebelum-sebelumnya terhadap rekan-rekan kerja saya di cabang lain. Downgrade, atau dibuang ke cabang yang nama daerah nya saja saya belum pernah dengar.

Tanggal 26 juli pagi sekitar jam 7 saya diantar Bapak ke terminal terdekat, jaraknya sekitar 35 km dari rumah. Perasaan sudah tidak karuan. Pasrah, sedih, bingung, campur aduk. Saya pun waktu itu belum tahu mau ke Solo menggunakan apa. Karena dari rumah saya harus ke Jakarta dengan waktu tempuh normal sekitar 5-6 jam, dari Jakarta baru lanjut ke Solo.

Pikiran saya kosong, naik bus dari terminal menuju Jakarta dengan perasaan gak karuan. Untuk sampai solo sebelum maghrib ataupun maksimal jam 9 malam sepertinya misi yang mustahil. Saya pasrah. Ditengah kebingungan tersebut tiba-tiba HP beberapa kali berbunyi, wah, tandanya sudah ada sinyal internet. Dengan perlahan saya ambil HP dari tas.

Ketika saya buka, wajah saya yang tadinya hitam putih dan berbentuk gak karuan, tiba-tiba berwarna dan berubah jadi ganteng. Jantung saya berdetak lebih cepat mengikuti mood yang tiba-tiba berubah menjadi luar biasa baik, secercah harapan muncul dari balik layar hp. Notifikasi dari price alert-nya traveloka yang sehari sebelumnya saya set berhasil menjalankan tugasnya dengan baik. Bahkan saya gak nyangka masih bisa mesen tiket pesawat, mungkin gara-gara pikiran saya sedang kacau. Bus yang pengap dan panas seakan berubah seperti jet pribadi, wangi dan sangat nyaman. Mungkin selain karena mood saya yang berubah drastis, juga karena di samping saya ada dede-dede gemes yang parfumnya semerbak.

jadi bisa dengan traveloka

Tiket Yang Dipesan Dari Atas Bus Pada Waktu Itu

Tanpa pikir panjang saya langsung pesan penerbangan Jakarta-Solo, dari atas bus. Dalam hitungan menit e-tiket telah terbit, begitu mudahnya pesan tiket pesawat lewat traveloka. Bahkan pesan nya hanya beberapa jam sebelum keberangkatan. Walaupun sempat terjadi insiden lari-lari di bandara karena hampir tertinggal pesawat, akhirnya saya bisa sampai kantor di Solo sekitar jam 20.00 WIB. Sengaja saya telepon OB untuk menunggu saya sampai kantor. Mampir kantor sebentar untuk absen, menyogok OB untuk tutup mulut dengan sekantong plastik oleh-oleh serta sepiring nasi goreng, kemudian mengambil bahan untuk pembuatan laporan meeting besok.

Saya pandangi suasana malam kota Solo dari balik jendela lantai 3 ruangan kantor. Tidak henti-hentinya saya bersyukur untuk kejadian hari ini. Sesuatu yang mustahil untuk terjadi bisa terlaksana kalau kita mau bersungguh-sungguh, tidak menyerah, dan memiliki partner yang tepat. Dalam hal ini traveloka telah menjadi partner perjalanan yang benar-benar tepat dan sangat membantu. Entah ada berapa ribu kisah di luar sana yang terbantu dengan adanya traveloka dengan fitur-fiturnya yang semakin hari semakin canggih.

Traveloka dulu, jalan-jalan kemudian!

            

Share this post:

Recent Posts

Leave a Comment