Belum ke Jogja jika Belum ke Malioboro



Malioboro, suatu nama yang sudah sangat melekat di benak masyarakat Indonesia dan dunia. Siapa yang tidak kenal tempat ini? Rasanya belum ke Jogja jika belum mengunjungi tempat eksotis ini. Well, Kawasan malioboro membentang dari Tugu Yogyakarta hingga perempatan Kantor Pos Yogyakarta. Konon, jalan ini juga merupakan sumbu imajiner yang menghubungkan Pantai Parangtritis, Panggung Krapyak, Kraton Yogyakarta, Tugu Yogyakarta dan Gunung Merapi.

Malioboro

Suasana Malioboro Saat Malam Hari

Malioboro berarti karangan bunga. Dinamakan demikian karena dulu, setiap kali keraton mengadakan perayaan tempat ini selalu dipenuhi dengan karangan bunga. Begitulah, nama malioboro hingga kini menjadi nama yang semakin mendunia.

Malioboro merupakan saksi sejarah berkembangnya kota Yogyakarta. Sejarahnya yang panjang telah terukir sebelum masa kemerdekaan. Ketika perang kemerdekaan, tempat ini menjadi basis perjuangan menghadapi agresi Belanda jilid dua. Pasca kemerdekaan, tempat ini menjadi pusat bertemunya para seniman yang ada di Jogjakarta.

Pada masa inilah malioboro berkembang menjadi kawasan wisata yang menarik untuk dikunjungi. Kegiatan ‘lesehan’ yang menjadi pemandangan lumrah di malioboro, pada awalnya adalah kebiasaan para seniman ketika berkumpul di tempat ini.

Lesehan di Malioboro

Lesehan di Malioboro

Datang ke malioboro jangan lupa berbelanja. Malioboro dikenal sebagai surganya cinderamata. Dengan hanya berjalan kaki di sepanjang bahu jalan, wisatawan sudah bisa berburu berbagai produk lokal seperti batik, wayang kulit, hiasan rotan, kerajinan perak, juga kerajinan dari bambu seperti gantungan kunci, lampu hias, dan berbagai kerajinan khas Jogja lainnya. Jangan lupa juga dengan kaos Jogja yang unik dan khas itu.

Tempat berburu produk lokal lainnya adalah Pasar Bringharjo. Tempat ini menyuguhkan produk lokal yang lebih lengkap. Jika ingin membeli batik, inilah tempatnya karena selain batik khas Jogja, di sini juga wisatawan dapat menemukan batik khas Pekalongan maupun batik Solo.

Datang ke malioboro rasanya gatal jika tidak berbelanja, namun demikian jangan lupa, sebaiknya menawar ketika berbelanja di tempat ini. Jika beruntung, Anda dapat mendapat potongan harga hingga separuhnya.

Malioboro

Wisata Belanja di Malioboro

Wisatawan juga dapat mengunjungi Benteng Vredeburg yang terletak di penghujung jalan malioboro. Benteng yang dibangun kisaran tahun 1765 ini, merupakan basis perlindungan Belanda dari kemungkinan serangan pasukan Kraton kala itu.

Wisatawan juga dapat mengunjungi Gedung Agung, sebuah bangunan yang menjadi tempat kediaman Kepala Administrasi Kolonial Belanda sejak tahun 1946 hingga 1949. Bangunan ini juga pernah menjadi Istana Negara pada masa kepresidenan Soekarno ketika Ibu kota negara dipindahkan ke Yogyakarta. Gedung Agung berhadap-hadapan dengan Benteng Vredeburg.

Senja menjelang, sepanjang jalan malioboro akan dipenuhi oleh para pedangan kaki lima yang menawarkan berbagai kuliner khas Jogja. Tidak hanya makanan khas seperti gudeg dan pecel, ada juga beberapa penjual yang menjajakan menu sea food maupun masakan padang. Diiringi alunan tembang yang dibawakan para seniman, makan malam di tempat ini menjadi suasana yang tak mudah dilupakan. Satu lagi yang tidak bisa dilupakan, wisatawan dipersilakan untuk lesehan jika ingin menikmati makan di tempat ini. (Baca Juga: Mencecap Cantiknya Candi Prambanan)

Puluhan lapak penjual makanan berjejer sepanjang jalan ketika panduanwisat.net mengunjungi tempat ini. Ribuan wisatawan hilir mudik berjalan kaki sambil berbincang santai dengan rekan-rekannya. Tidak sedikit juga yang sudah duduk manis menunggu makanan favorit yang sudah dipesan. Panduanwisata.net langsung merapat di salah satu lapak yang menjual makanan khas Jogja. Sambil menunggu makanan disajikan, para seniman yang banyak terdapat di tempat ini, mendendangkan lagu-lagu khas mereka yang kental dengan kejawaan. Inilah salah satu tempat wisata di Jogjakarta yang wajib dikunjungi. (SK)

Share this post:

Related Posts

Leave a Comment